Alvin ♥ Sivia

Alvin ♥ Sivia

Senin, 13 Juni 2011

Ini Bukan Akhir Mimpiku (Short Story)

Kebahagiaan itu akhirnya datang juga
Risauku selama hampir setahun ini akhirnya terbalas pula
Terimakasih Tuhan, Kau telah limpahkan karunia tak terbatas kepadaku.
*

“Aku LULUS!!!!!”

Sorak sorai pelajar kelas XII itu menggema diseluruh penjuru gedung sekolah ini. Sirat wajah kebahagiaan terus terpancar dari diri mereka, seolah tak ingin beranjak seincipun dari sana. Hampir setahun sudah mereka tak henti-henti  bergeluyutan dengan buku, serta pelajaran tambahan yang sangat menjemukan. Belum lagi dengan perasaan risau yang terus mengusik pikiran-pikiran mereka. Akankah aku lulus? Bagaimana nilaiku kelak?

Dan akhirnya, hari ini itu semua seperti telah terbayar lunas. Sekolah ini lulus seratus persen. Tawa lepas pun memenuhi rongga telinga setiap makhluk hidup disana.

“Rio!! Aku lulus!!! Aahh…” Seorang pemuda berwajah oriental berjalan angkuh menghampiri sahabat kabribnya.

“Ah Alvin, iya aku lulus juga Vin. Seneng deh akhirnya perjuangan kita setahun ini tak sia-sia.” Keduanya pun saling berpelukan dan saling tepuk menepuk pundak, seolah membagi kebahagiaan mereka saat itu.

“Oke deh Yo, sekarang kita tinggal menunggu pengumuman SNMPTN Undangan dua hari lagi. Semoga hasilnya tak mengecewakan.” Ujar pembuda oriental yang bernama Alvin itu.

“Sip deh bro. Eh, kau mau tanda tangan ku tidak?”

“Hahahaha.” Alvin pun tertawa dan segera meraih spidol yang terletak di samping papan tulis, dekat ia dan Rio berdiri kini.

Yah.. Akhirnya hari itu dilanjutkan dengan acara tanda tangan, konvoi dan lain sebagainya. Ada juga siswa-siswi yang bergantian mencium tangan bapak-ibu gurunya seraya mengucap banyak terimakasih atas jasa-jasa mereka selama ini. Ah.. bahagia sekali memang.
*

Dihari penentuain ini, aku jatuh lantas tersungkur
Tubuhku ringkih, seolah sangat sulit bagiku untuk bangkit dan berdiri
Namun terimakasih Tuhan, Kau telah kirimkan malaikat tanpa sayap itu pada ku
*

Malam itu, seorang pemuda terlihat tengah sibuk sekali dengan notebooknya. Dia mulai menancapkan modem, mengconectkannya, lantas menunjuk salah satu software yang dapat menghubungkannya dengan dunia maya. Pemuda itupun mengetik beberapa huruf pada web address bar  yang telah tersedia disana, kemudian menekan enter pada keyboard notebooknya.

Ia menghentak-hentakkan kakinya tak jelas ke lantai sambil menunggu proses loading pencariannya usai. Tergambar jelas bahwa pemuda ini tengah dirundung kegelisahan yang teramat sangat. Telihat dari mimik wajah dan tatapan tajamnya yang terus mengarah kepada layar yang menyala terang dihadapannya itu.

Akhirnya web yang sedari tadi ia buka tengah menampakkan rupanya. Lantas si pemuda pun mengklik salah satu wilayah berwarna merah  yang di sodorkan front page web tersebut dan kemudian memasukkan beberapa digit nomer pada kolom yang telah tersedia.

Kegelisahan yang sedari tadi menghantuinya pun kini terasa semakin liar. ‘Beberapa detik lagi, dan semuanya akan ku ketahui.’ Pemuda itu mulai bergumam pelan sambil merapalkan do’a tak henti-henti kepada Yang Kuasa, berharap segalanya akan berakhir baik.

Setelah beberapa lama menunggu dalam keheningan kamarnya sendiri, si pemuda pun tiba-tiba mendelik, seolah tak percaya akan beberapa kata yang sangat menohoknya kala itu.

‘Maaf Anda Tidak Lolos SNMPTN Undangan 2011’

Si pemuda terus mengulang untuk membaca kalimat tersebut. Ia lantas mengerjapkan matanya beberapa kali, berharap tulisan didepannya itu dapat berubah seketika itu. Namun apa daya, tulisan itu tak kunjung berubah pula. Ia pun menghela nafas panjang dan berat, memejamkan matanya, dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.

‘Kuarang bagus apa nilai raport ku?’ Pikirnya. Ia sudah nampak frustasi akibat kalimat keramat yang tengah berhasil mematahkan tangga cita-citaya tersebut.

 “Bagaimana Vin?” Tanya seorang lelaki paruh baya yang kini duduk tak jauh dari putra semata wayangnya itu. Namun, si pemuda yang di tanya malah diam saja tak bergeming dan masih asik menundukkan kepalanya. Setelah beberapa lama, ia lantas menghela nafas panjang sekali lagi dan kemudian menjawab pertanyaan sang ayah tanpa menoleh sedikitpun.

“Aku belum berhasil Yah.” Ujarnya dengan intonasi yang teramat lirih.

“Coba nak, kau baca sekali lagi.” Sang ayah malah menyuruhnya untuk membaca tulisan itu lagi, seolah meragukan kemampuan membaca sang putra. Alvinpun memutar notebooknya agar menghadap kepada ayahnya. Lelaki paruh baya itu lantas membetulkan letak  kacamata bacanya yang sedikit melorot dan kemudian membungkuk, mendekatkan wajahnya pada layar yang tengah menyala terang di depannya itu. Setelah mencermati tulisan itu selama beberapa detik, ia pun akhirnya kembali duduk dan mendesah pelan.

“Mungkin, Tuhan memiliki rencana lain untukmu. Kau tahu? Tuhan mengetahui segala yang terbaik untukmu lebih dari dirimu sendiri. Berjuanglah nak, karena perjuanganmu baru saja akan dimulai.”

Alvin pun terdiam mendengar kata-kata ayahnya. Benar. Setelah ini masih banyak tantangan yang akan menuntutnya. Memang jika SNMPTN Undangan ini ia belum lolos, masih ada kesempatan lagi untuknya mecoba jalur SNMPTN tulis. Namun bukannya itu akan terasa sangat berat? Kuota penerimaan mahasiswa barunya pun juga lebih sedikit. Bisakah ia lolos?

Ayah Alvin pun bangkit dari tempat duduknya dan kemudian maju beberapa langkah menghampiri putra kesayangannya itu. Ia lantas menepuk-nepuk bahu Alvin dua kali untuk sekedar memberi kekuatan dan kemudian berbalik melangkah pergi, membiarkan putranya untuk sejenak menenangkan diri.

Alvin pun dengan cepat membalikkan tubuhnya dan menatap punggung sang ayah yang kini sudah berada diambang pintu kamarnya. Sebelum ayahnya benar-benar pergi, pemuda itu mengucap beberapa kata yang sangat mengganggu pikirannya saat ini. “Ayah kecewa padaku?”

Ayah Alvin pun seketika berbalik dan tersenyum samar. “Belum.” Ujarnya, yang kemudian kembali melangkah meninggalkan kamar Alvin. Alvin kembali mendengus pelan, kemudian menatap notebooknya lagi dengan tatapan yang teramat benci. Ingin sekali ia membanting benda mungil dihadapannya itu, sebelum ada sebuah suara yang tengah mengusik gendang telingannya.

‘tok tok tok’

Tanpa menunggu aba-aba dari si empunya kamar, kini tampak seorang gadis manis tengah menyembulkan rupanya dari balik pintu jati ruangan tersebut.

“Maaf kak, aku menggangu?” Tanya nya pada seorang pemuda yang tampak kacau dihadapannya kini. Si pemuda yang ditanya hanya menggeleng lemah. Lantas, gadis manis tadi pun berbalik menutup pintu jati di belakangnya dan kemudian melangkah menghampiri kakak sepupunya yang tengah galau tingkat dewa itu.

Si gadis pun akhirnya memeberhentikan langkah tepat dibepakang sepupunya dan menepuk-nepuk pelan pundaknya. “Sabar ya kak.” Ujarnya lirih. Namun lagi-lagi si pemuda hanya menghela nafas berat.

Gadis itu pun akhirnya memilih duduk di kasur yang terletak di sebelah kiri meja belajar sepupunya. Lantas ia menghirup nafas dalam, menghembuskannya dan berujar “Kakak percaya dengan ungkapan ‘kegagalan adalah suatu kesuksesan yang tertunda?’”

Alvin pun mendelik dan kemudian tersenyum sinis. “Itu hanya sebuah ungkapan. Jika seseorang tengah gagal dan terpuruk, akan sulit baginya untuk kembali bangkit. Butuh perjuangan yang sangat keras untuk mengembalikan keadaannya seperti semula.”

Gadis manis tadi pun tersenyum menanggapi kata-kata Alvin. “Nah, kakak benar. Maka dari itu, kakak harus berjuang lebih keras untuk bangkit dan kemudian kembali semangat mengejar cita-cita kakak. Via yakin, kakak mampu. Via kenal kakak seumur hidup Via, sejak Via lahir. Via tahu kak Alvin tak mungkin selemah ini. Kak Alvin, sosok yang selalu membuat Via kagum akan kegigihannya untuk mencapai apa yang ia inginkan. Kak Alvin yang memiliki semangat membara untuk terus belajar tanpa kenal lelah. Kakak bisa! Percayalah!” Via –nama gadis manis itu- lantas kembali bangkit dan kemudian menumpukan kedua telapak tangannya di bahu sepupunya, untuk meyakinkan Alvin bahwa dirinya bisa dan mampu.

Namun tampaknya, Alvin masih saja ragu. Dirinya masih ringkih dan belum siap untuk kembali bangkit secepat ini. “Tapi Vi, kakak sudah gagal. Jalan yang harus kakak tempuh setelah ini akan lebih berat. Kakak tak yakin dapat melaluinya.”

“Kak, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Kita masih punya Tuhan yang akan selalu menolong kita, memudahkan jalan kita, jika kita mau terus berusaha dan berdo’a.”

Benar apa yang dikatankan Via. Alvin masih memiliki Tuhan yang akan selalu mengulurkan nikmat bagi seluruh hambanya yang sabar dan terus berusaha. Alvin harus bangkit untuk kembali meraih cita-citanya. Sungguh tak dapat di terima jika sayap yang telah ia rangkai untuk menerbangkan kotak cita-citanya itu lantas menggugurkan bulunya satu persatu hingga tandas dan tak dapat lagi terbang menembus angan-angannya.

“Kakak bisa, asal mau berusaha . Kakak harus percaya bahwa diri kakak mampu. Jangan pernah berkata ‘aku tidak bisa’ karena Via sangat membenci kata-kata itu.”

Alvin pun mengernyitkan dahi setelah mendengar ucapan Via tadi. Lantas ia pun bertanya kepada sepupunya itu “kenapa?”

Via pun mendengus sekilas sebelum menjawab pertanyaan Alvin. “Kakak tahu, jika kakak berkata tidak bisa, maka tanpa kakak sadari otak kakak akan mengamini perkataan kakak itu. Kakak akan benar-benar gagal jika kakak terus berpikir bahwa kakak akan gagal. Dan sebaliknya, kakak akan berhasil jika kakak terus menanamkan pikiran bahwa kakak akan berhasil.”

Oke, harus Alvin akui sekali lagi bahwa perkataan Via itu benar.  Jika Alvin terus menerus berpikir dirinya akan gagal, maka itu akan semakin membuatnya takut dan down. Sekarang yang sepatutnya Alvin lakukan adalah kembali semangat untuk meraih cita-cita yang diimpikannya, karena semuanya belum berakhir.

“Kak Alvin tahu? Tuhan mengirimkan ujian kepada makhluknya itu tidak sendirian. Pasti ada hikmah disamping itu semua. Seperti kakak sekarang. Mungkin Tuhan ingin menguji seberapa tegar dan seberapa gigih kakak untuk mencapai cita-cita kakak. Agar kelak, saat kakak berusaha dengan keras dan membuahkan hasil yang memuaskan, kakak akan lebih tahu akan apa itu arti bersyukur.”

Alvin masih saja terdiam meresapi setiap kata yang terlontar dari bibir Via. Lantas ia memejamkan matanya, sekedar untuk mencari kebenaran dalam dirnya sendri. Benarkah dirinya akan mampu lolos dalam SNMPTN tulis dan membanggakan ayah ibunya?

“Ayah dan ibu kakak pasti kelak juga akan bangga jika kakak mampu lolos dari ujian Tuhan yang satu ini. Kakak harus bisa meraih mimpi kakak, karena cita-cita kakak adalah cita-cita orang tua kakak juga.”

“Kakak harus bangkit demi orang-orang yang kakak sayangi dan menyayangi kakak. Jangan terus terlarut dalam sebuah penyesalan. Karena mau seberapa lama pun kakak menyesali ini semua, keadaan tidak akan berubah jika bukan kakak sendiri yang mengubahnya.”

Suasana disana pun hening beberapa saat setelah Via mengakhiri ucapannya. Kini hanya tinggal terdengar suara jangkrik yang dengan beraninya bersuara di luar ruangan tersebut. Tak jarang pula suara jangkrik itu berbaur menjadi satu dengan suara burung hantu yang entah tengah bertengger dimana. Desauan anak-anak angin pun mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar Alvin dengan sedikit malu-malu untuk sekedar memberi semangat kepada si pemuda yang tengah dirundung rasa putus asa itu.

Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan kembali tertelurkan dari mulut Alvin, menghapus keheningan yang tengah tercipta.  “Namun, bukannya kita juga harus memikirkan kemungkinan terburuk dari ini semua Vi? Bagaimana jika besok kakak gagal dan membuat kecewa kedua orang tua kakak? Bukankah kakak ini anak yang tidak berguna?”

“Jangan bicara begitu kak!” Nada bicara Via seketika meninggi. Alvin pun sontak kaget. Namun perlahan Via kembali mengontrol emosinya dengan menarik dan menghembuskan nafasnya yang memburu beberapa kali.

“Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini sudah pasti berguna dan beranfaat. Tidak ada yang tercipta sia-sia. Begitu pun kakak. Kakak belum mencobanya, jadi tak sepantasnya kakak pesims seperti ini. Mana kakak Via yang selalu semangat? Mana kak Alvin yang pantang menyerah? Ini benar-benar bukan diri kakak!” Via pun mencibir sepunya itu. Entah apa yang ada di benak Alvin hingga ia selalu menanamkan pikiran negatif pada otaknya.

“Kalaupun nanti kakak tidak lolos dalam SNMPTN tulis, kakak masih bisa kuliah di Universitas swasta bukan? Tidak apa-apa kita mundur satu langkah kebelakang untuk maju berjuta-juta langkah kedepan. Percayalah kak! Ini bukan akhir, justru ini adalah awal dari perjuangan kakak!”

Alvin pun mulai membuka matanya perlahan. Nampaknya, kini jiwa pemuda itu sudah menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Tuturan Via memang sangat merasuk dalam dirinya. Membaur menjadi satu dengan aliran darahnya dan mentranfer beberapa energi positif disetiap sel tubuhnya.

Alvin tak boleh terus terpuruk. Ia justru harus semangat agar cita-citanya kelak dapat tercapai. Terlebih jika dia berhasil menjadi seorang dokter seperti apa yang idamkannya, pastilah ia dapat menerbitkan tawa di wajah kedua orang tuanya. Suatu kebahagiaan yang tak dapat dibayar oleh emas permata tat kala meihat pemandangan kedua orang tuanya tertawa bahagia dan bangga atas prestasi yang ia raih.

Lantas, Alvin memutar kursi belajarnya dan kemudian menatap wajah Via tajam. Ia pun mulai tersenyum –dengan senyuman miring khas nya- yang seketika mampu membuat hati Via lega. “Wah, adik kakak sudah pintar ngasih wejangan ke kakaknya nih!” Alvin mengangkat tangan kanannya dan kemudian mendaratkannya tepat pada puncak kepala Via. Ia lantas mengacak rambut Via dengan sedikit  gemas.

Via pun terkekeh pelan. Menyadari bahwa kakaknya kini sudah kembali seperti sedia kala. “Kak, dulu waktu SD, Via pernah nangis gara-gara nilai raport Via turun. Via down dan nggak mau sekolah lagi. Terus kak Alvin yang nyemangatin Via dan nyanyiin sebuah lagu buat Via. Sekarang gantian Via yang mau nyanyiin lagu itu buat kakak. Boleh?” Alvin pun tersenyum manis dan kemudian mengangguk dua kali, tanda bahwa ia mengijinkan Via menyanyi untuknya.

Via pun membalas senyuman Alvin itu tak kalah manis. Lantas ia berjalan menuju salah satu sudut kamar Alvin dan mengambil sebuah gitar disana. Setelah itu, ia kembali duduk di atas kasur empuk Alvin dan memulai permainannya.

Jangan bersedih dan putus asa
Slalu ada jalan bila kau terus berdoa
Tabur harapmu sebanyak bintang
Sebanyak bintang-bintang diangkasa

Alvin masih menatap Via lekat-lekat. Mencoba meresapi setiap baris dari lagu yang pernah ia nyanyikan untuk gadis itu dulu. Ia tak boleh mudah putus asa, karena Tuhan akan selalu bersamanya. Ia sudah menebar angan-angannya untuk menjadi seorang dokter yang terkenal. Dan kini, ia harus berjuang keras agar cita-citanya itu tercapi. Ya, memang haruslah begitu.

Gapai bintangmu, gapai impian
Jangan menyerah sebelum kau mencoba
Saatnya tiba, kau kan bahagia
Melihat bintangmu bercahaya

Dan jika ia tengah berusaha dan belajar keras, maka jalannya untuk menjadi seorang dokter akan terbuka lebih lebar. Pengetahuannya akan bertambah dan tak khayal jika tanggal 31 besok ia mampu menjawab soal SNMPTN tulis dengan mudah. Alvin harus tetap mempertahankan semangat didadanya. Dia belum mencoba, sehingga segala kemungkinan masih dapat terjadi. Ia yakin bahwa Tuhan akan mengirimkan malaikatNya untuk senantiasa membantu dirinya. Dan kelak jika saatnya tiba, ia akan tersenyum menang serta menyaksikan kedua ujung bibir orang tua terkasihnya terangkat, membuat sebuah senyuman luas yang mampu membuat dirinya puas.

Tunjuk satu bintang dan raihlah
Jangan kau berhenti dan menyerah
Saatnya kan tiba, bintangmu bersinar
Saat impianmu, jadi nyata (Idola Cilik–Tunjuk Satu Bintang)
*

Tuhan memang sangat adil
Semua rencananya telah tersusun indah tanpa cela
*

Beberapa hari setelah waktu itu, Alvin menjalani tes SNMPTN tulisnya di salah satu Universitas ternama di Indonesia. Alih-alih diterima, ia bahkan berhasil menyabet beasiswa selama 8 semester disana.

Yah, Lima tahun sudah Alvin mengemban ilmu di universitas itu dan akhirnya, kini ia berhasil menyandang gelar sarjana S 1-nya. Bahkan tak hanya berhenti di situ, lagi-lagi ia juga mampu mendapatkan beasisiwa. Beasiswa untuk melanjutkan S 2 di Jepang berkat semangatnya yang tak pernah redup untuk terus belajar.

Beginilah cara indah Tuhan untuk menunjukkan kekuasan-Nya kepada setiap umat yang senantiasa berdo’a dan berusaha demi mencapai apa yang ia inginkan. Percayalah bahwa Tuhan tidak akan mau mengubah takdirmu begitu saja jika kau sendiri tak berusaha untuk mengubahnya.

-TAMAT-

Errrrrr *lirik kanan kiri memastikan tak ada suatu benda melayang yang tertuju kepada penulis sarap ini*Demi apa ini cerpennya rusak banget. Kata-katanya banyak yang belibet. Feelnya ngak dapet dan endingnya nggak banget. AAAAAAAA (sekarang bukan Alvin, malah penulisnya yang lagi galau tingkat dewa memikirkan hasil karya yang gagal total ini)

Maaf beribu maaf buat yang sial kena tag dari saya. Boleh dihapus kok kalo memang nggak suka.

Pesan dari cerpen ini, kita harus tetap semangat untuk menghadapi cobaan seburuk apapun, karena kita tidak pernah tahu apa rencana indah Tuhan yang telah menanti di depan kita. Jika kita mau berusaha keras dan berdo’a, Tuhan akan mengubah takdir kita menjadi lebih baik. Percayalah.

Minggu, 12 Juni 2011

Aku Menyayangimu Sahabatku (Short Story)

Aku menyesal ‘tlah membuatmu menangis,
Dan biarkan memilih yang lain,
Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu,
Pasti itu terbaik untukmu,
Janganlah lagi kau mengingatku kembali,
Aku bukanlah untukmu,
Meski ku memohon dan meminta hatimu,
Jangan pernah tinggalkan dirinya,
Untuk diriku.
***

Sivia Azizah dan Ashilla Zahrantiara. Dua sahabat yang tak dapat terpisahkan, begitulah kata teman-teman seantero sekolah mereka. Dimana ada Via –panggilan akrab Sivia- di sana pasti ada Shilla. Mereka sudah bersahabat sejak SMP. Dan kini persahabatan abadi mereka itu berlanjut pada jenjang SMA. Sampai kelas XI ini mereka masih menjadi teman sekelas, dan tentunya teman sebangku pula.

Benarkah persahabatan mereka akan tetap abadi saat cinta melanda salah satu dari mereka? Akankah mereka masih bisa tertawa bersama kala pemuda itu datang? Ataukah ada yang dapat mereka lakukan dikala takdir tiba-tiba menyapa dan  kelak harus memisahkan persahabatan abadi mereka itu? Entahlah. Tak seorangpun yang dapat menerkanya. Semua masih terkunci rapat dalam catatan misteri Sang Pencipta.
***

Saat cinta mulai menyapanya, gadis itu pun ikut tersenyum bersamanya. Larut pula dalam telaga kebahagiaannya. Menerka-nerka siapa gerangan pemuda yang kini menghiasi hatinya, serta pemuda yang selalu ia rahasiakan keberadaanya. ‘Biarlah itu menjadi kejutan untukmu.’ Begitulah katanya.
***

“Viaaa!!!!” panggil Shilla tiba-tiba sambil setengah berlari dari arah gerbang sekolah. Via –si empunya nama- langsung membalik tubuhnya 180 derajat. Mendapati sahabat karibnya itu tengah berlari kecil ke arahnya.

“Aduh ada apa sih Shil? Kok kayaknya penting amat sampe lo lari-lari gitu?” Tanya Via lembut sambil memandang aneh pada sahabatnya itu.

Wajah Shilla menyemburkan gurat kebahagiaan. Via pun tersenyum kecil memandang sahabatnya yang tampak aneh pagi ini. ‘Setan apa coba yang merasuki jiwa Shilla pagi-pagi begini?’ pikir Via dalam hati, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tada ia tidak mengerti akan sikap Shilla pagi ini.

“Kamu tau nggak Vi?” Ucapnya dengan nada berkoar-koar. Via hanya mengedikkan bahunya. Ia makin nggak ngeh sama sikap Shilla. “Jo bakal pindah ke sekolah kita secepatnya!” Lanjut Shilla heboh. Senyum mengembang menghiasi wajah manisnya. Via pun ikut tersenyum melihat sahabatnya ini sangat bahagia.

Ya, Jo. Begitulah Shilla memanggilnya. Pemuda yang sudah empat bulan ini menempati posisi special di hati Shilla. Namun, Via sendiri sebagai sahabat terdekat Shilla, sesungguhnya tak pernah tahu siapa itu Jo, seperti apa sosoknya dan bagaimana sikapnya. Tetapi dari segala hal yang ia dengar dari Shilla, Jo adalah pemuda yang baik. Jadi ia tak perlu khawatir kalau-kalau Jo akan menyakiti sahabat yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri ini.

“Wah, Selamat ya Shil. Akhirnya abis ini lo udah nggak perlu long distance relationship lagi sama si Jo.” Kata Via sambil tersenyum, tanda bahwa ia juga turut bahagia saat Shilla bahagia.

Kriiinnggg!!!!

Bunyi nyaring bel tanda masuk sekolah membuyarkan obrolan singkat mereka kala itu. Kedua insan yang saling bersahabat erat itu pun masuk ke kelas mereka dan memfokuskan diri pada pelajaran-pelajaran hari ini.
***

Cinta datang begitu saja, tanpa ada yang meminta. Pada waktu dan tempat yang tak terduga. Namun, jika ia tengah melanda, tak sorang pun yang mampu menolaknya. Begitu pula dengan perasaan mereka.
***


Saat itu, Shilla dan keluarganya tengah berlibur ke puncak. Tadinya ia ingin sekali mengajak Via. Namun sayang, tiba-tiba Via jatuh sakit senhingga tidak dapat menemani Shilla berlibur kala itu. Sebenarnya Shilla sangat mengkhawatirkan keadaan Via, namun Via memaksanya untuk tetap berlibur dan tidak mebatalkan liburannya itu hanya gara-gara ia yang tiba-tiba jatuh sakit. Shilla pun menurut. Namun begini lah. Liburannya tak bisa sempurna. Terasa sekali ada yang kurang disini.

Hari itu Shilla meminta ijin kepada orang tuanya untuk memetik strawberry di kebun strawberry dekat tempat penginapan mereka. Orang tua Silla pun mengijinkan putri semata wayagnya itu untuk pergi. Membiarkannya memetik dan merasakan aroma segar buah strawberry khas puncak pagi itu.

Terlihat Shilla berjalan dengan langkah lemas. Percikan semangat tak ketara pada bias-bias wajah ayunya kala itu. ‘Coba aja Via ada disini, pasti lebih seru.’ Gumamnya. Entah sudah berapa kali ia berucap seperti itu semenjak kedatangannya di tempat ini kemarin siang. Liburannya benar-benar terasa hambar tanpa ada sahabat karib di sisinya.

Akibat tak terlalu fokus pada langkah kakinya, Shilla pun tersandung sebuah batu yang cukup besar sehingga membuatnya limbung dan terjatuh. Oh, belum sampai tubuh Shilla jatuh dan bersentuhan keras dengan tanah, ada sepasang tangan kekar yang merengkuh pundaknya. Membantunya untuk kembali berdiri tegak, meski buah strawberry yang sedari tadi telah ia kumpulkan harus rela berhamburan kemana-mana.

“Thanks.” Kata Shilla singkat, sambil mebetulkan tubuhnya untuk kembali berdiri tegak.

“Sama-sama. Makanya lo ati-ati ya kalo jalan. Jangan ngelamun terus gitu.” Kata sang pemuda baik hati yang tadi telah menolong Shilla. Pemuda itu pun tersenyum tipis, membuat atmosfer aneh disana tatkala kedua pasang mata bening mereka saling bertumbuk.

“Um.. Iya. Maaf tadi gue lagi mikirin sesuatu.” Kata Shilla kemudian. Ia agak cangungg sepertinya. Entah bagaimana ia merasakan getaran kecil di dasar hatinya kala menatap pemuda oriental di depannya ini.

“Oh, oke deh. Well strawberry lo jatuh semua tuh. Ini ambil aja punya gue, nggak papa kok.” Kata pemuda itu lagi, menawarkan strawberry miliknya yang juga baru saja ia petik kepada Shilla. Shilla pun semakin merasa tidak enak kepada pemuda yang beberapa menit lalu telah menolongnya, dan sekarang ia bahkan akan memberikan strawberry hasil petikannya secara suka rela kepada Shilla.

“Eh, ngga nggak usah repot-repot. Besok gue juga mau petik lagi kok. Udah strawberry itu buat lo aja. Gue nggak papa kok.” Gadis manis itu menolak niat baik pemuda didepannya dengan halus, berusaha untuk tidak menyinggung hati orang sebaik pemuda tersebut.

“Udah bawa aja, gue juga nggak papa kok.” Paksanya. Si pemuda itu pun meraih tangan Shilla dan menyerahkan keranjang strawberry miliknya kepada gadis manis itu. Shilla pun tak kuasa menolaknya lagi karena pemuda ini memang benar-benar memaksa.

“Eh iya kenalin, nama gue Jonathan, lo bisa panggil gue Jo aja. Kalo lo siapa?” Tanya pemuda bermata sipit itu yang ternyata bernama Jo.

“Oh, gu.. gue Shilla.” Jawabnya sambil terbata. Entah mengapa ia measa kerah bajunya seolah mengecil dan membuatnya tercekik hingga kesulitan bernafas saat memandang telaga being di kedua fokus gelap pemuda bernama Jo itu.

“ Oh, nice. Sama seperti orangnya.” Ucap Jo. Pipi Shilla pun seketika memanas dan bersemu merah jambu mendengar perkataan Jo barusan.

“Thanks.”

“Um.. gue anter lo balik ya Shil. Takutnya tar lo jatuh lagi di jalan gara-gara ngelamunin gue.” Seketika mata Shilla membelalak. Lucu sekali rupanya kala itu. Jo pun terkekeh kecil melihatnya. Segera Shilla jatuhkan sebuah pukulan kecil pada bahu Jo.

“Ye.. PD banget lo!” Tukas Shilla yang kemudian mengerucutkan bibir mungilnya. Jo pun tertawa renyah melihat tingkah lucu gadis yang baru di kenalnya ini.

Setelah hari itu, Shilla dan Jo semakin dekat. Bahkan setelah mereka kembali ke kota asal mereka masing-masing, keduanya masih berhubungan, baik itu via telepon, sms, chat atau e-mail.

Tepat enam bulan setelah itu pula, mereka kembali berlibur ke puncak. Lagi-lagi Via tak dapat ikut berlibur bersama Shilla karena neneknya sedang sakit keras. Padahal, saat itu Shilla ingin sekali memperkenalkan Jo kepadanya.

Tanpa di sangka, di tempat yang sama saat mereka bertemu akibat kecelakaan kecil yang Shilla timbulkan dulu –di kebun strawberry- Jo mengungkapkan perasaannya kepada Shilla. Shilla pun tak dapat menolaknya karena sesungguhnya ia juga sangat mencintai pemuda oriental itu, sejak pertama kali mereka bertemu.
***

Akhirnya pemuda misterius itu pun datang. Wajahnya seperti sudah lama ia pandang. Namun siapa? Ternyata ia tak dapat mengenang.
***

            Pagi itu, mentari bersinar amat cerah. Secerha perasaan Shilla hari ini. Sejak benda kuning raksasa yang kini tengah melayang tanpa ragu itu malu-malu untuk menyapa dunia, ia sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ya. Tetu saja ada sesuatu yang membuat gadis manis ini begitu antusias untuk segera berangkat sekolah hari ini. Bahkan, ia berharap-harap waktu bisa berjalan sedikit lebih cepat agar bel masuk sekolah segera berbunyi.

Ya. Ini lah hari-hari yang telah Shilla tunggu. Hari dimana kekasihnya akan bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Pagi-pagi sekali ia -dan tentunya di temani oleh sahabat karibnya- , Via sudah datang di sekolah. Bersiap untuk menyambut kedatangan kekasih hatinya pagi ini.

“Aduh Shil, kenapa sih kita harus dateng ke sekolah pagi-pagi ini? Gue masih ngantuk tau!” Gerutu Via sambil memajukan  sedikit bibir mulngil miliknya dan mulai mengucek-ucek mata beningnya yang terasa masih lengket.

“Yaampun Via sayang, lo lupa ya kalo hari ini tuh Jo bakal dateng kesekolah kita, bakal satu sekolahan sama gue. Ini semua tuh kayak mimpi tau nggak. Gue nggak pernah bayangin kalo Jo bakal nyusul gue ke Jakarta.” Ucap Shilla panjang lebar. Via pun hanya mengulum senyum. Mencoba memaklumi sikap sahabatnya yang begitu antusias menunggu kedatangan sang pujaan hatinya.

“Hmm.. Iya deh Shil. Gue tau lo lagi seneng.” Ucap Via kemudian. “Tapi ya Shil, sumpah gue penasaran banget sama yang namanya Jo- Jo itu, kayak apa sih dia? Kok sampe bisa bikin lo jadi rada nggak waras gini. Haha.” Lanjut Via, sambil setengah meledek Shilla.

“Yee.. bisa aja lo Vi. Ada deh, yang pasti Jo itu ganteng dan baik banget. Ini kejutan buat lo Vi. ‘Ntar pasti gue kenalin dia ke elo kok. Tapi awas aja ya, jangan sampe lo naksir sama dia. Dia itu punya gue. haha” Jawab Shilla masih dengan matanya yang menyiratkan binar kebahagiaan di sana.

“ Huh..” Via mendesah sangat pelan, berharap Shilla takdapat mendengarnya. Sesuatu tengah membebani pikiran Via saat ini. Namun sayang, telinga Shilla terlalu jeli sehingga dapat mendengar desahan yang teramat pelan itu.

“Lo kenapa Vi?” Selidik Shilla.

“Eh, eng.. nggak papa kok Shil.” Dustanya.

“Ayo dong Vi jangan gini. Kita kan sahabatan, malah udah kayak sodaraan. Cerita ke gue dong kalo lo ada masalah.” Ucap Shilla sambil memengang kedua pundak Via, berusahan meyakinkan gadis itu bahwa ia siap membantu apapun di setiap detil masalahnya.

Via pun sudah tak dapat menutipinya lagi. Rasa irinya kepada Shilla yang sudah menemukan pangeran hatinya, tak dapat ia tahan lebih lama.

“Gue iri deh Shill sama lo. Kapan ya gue bisa nemuin cinta gue lagi dan bahagia sepeti lo saat ini?”  Pandangan Via menunduk, memandangi ujung-ujung sepatunya yang jelas sama sekali tak menarik. Namun entah mengapa saat ini hanya pemandangan itu lah yang nyaman dilihatnya.

Menyadari sahabatnya ini tengah bersedih, Shilla pun memeluk Via erat, seolah ia dapat mentrasfer sebuah ketegaran pada tubuh sahabatnya yang kini tegah rapuh mengenang masa lalunya.

 “Lo yang sabar ya Vi. Gue yakin suatu hari nanti lo bakal nemuin dia, cinta monyet lo dulu.” Kata Shilla, mencoba untuk menguatkan perasaan Via.

Via pun melepaskan rengkuhan Shilla itu. “Ye, kok gitu sih Shil ngomongnya. Dia itu bukan cinta monyet gue, tapi cinta-sejati-gue.” Ucap Via mencak-mencak penuh keyakinan. Tak terima jika rasa cintanya kepada pemuda itu sejak sepuluh tahun lalu hanya di bilang ‘cinta monyet’ belaka.

“Hehehe iya deh Vi iya. Apa aja kata lo.” Ucap Shilla kemudian. Meski tak dapat dipungkiri ada sedikit kesedihan disana, mengingat sahabat terbaiknya ini masih saja memikirkan cinta monyetnya saat umurya sekitar tujuh tahunan dulu.
***
           
Semua mata tertuju pada penghuni baru sekolah itu. Seorang pemuda tampan berwajah oriental yang tengah banyak menarik perhatian gadis-gadis manis di sekitarnya. Matanya melirik kanan dan kiri seolah mencari seseorang disana. Ya, Shilla. Kekasihnya lah yang tengah ia cari.
           
“Hey, Jo!!!” Sapa seorang gadis cantik dengan seorang sahabatnya yang sedikit berlari menghampiri pemuda yang di sapa ‘Jo’ tadi. Benar saja, itu Shilla dan Via. Jo pun tersenyum melihat kekasihya yang telah lama tak dipandangnya.
           
“Hey canitk! Apakabar kamu? Dari tadi aku nyariin kamu tau.” Ucapnya. Wajah Jo sumringah melihat kekasih di depannya ini terkekeh kecil mendengar kata-katanya barusn. Lucu sekali wajah Shilla. Pikirnya kala itu.
           
“Baik Jo. Kamu sendiri gimana? Lama ya kita nggak ketemu?”

“Aku baik juga kok Shil. Iya ya. Kalo dipikir-pikir kita belum pernah ketemu kan setelah jadian. Ini pertemuan pertama kita setelah empat buan jadian.” Kata Jo sambil mengacak pelan poni Shilla. Shilla pun tersenyum kecil melihat perlakuan kekasihnya ini. Sungguh beruntung dirinya bisa memikiki kekasih sebaik Jo.

Ya begitulah. Jo memang pemuda yang sopan dan baik. Ia selalu memperlakukan Shilla bak seorang tuan putri yang harus dijaga baik-baik keadaannya. Tak diijinkannya gurat kesedihan muncul pada wajah cantik kekasihnya itu, walau secuilpun.

“Oh iya, kenalin ini sahabat ku Jo, namanya Sivia Azizah. Kamu boleh panggil dia Via aja.” Shilla pun akhirnya memperkenalkan Via pada kekasihnya, setelah beberapa menit –mungkin- ia melupakan kehadiran gadis tersebut.

“Via”

“Jonathan. Um.. tapi lo boleh panggil gue Jo aja.”

Via dan Jo pun saling berjabat tangan. Entah mengapa wajah Jo menjadi pucat pasi saat menatap manik mata gadis di depannya itu. Via pun juga sedikit bengong saat menatap wajah yang terpeta tepat di depannya kini. Wajah pemuda itu seperti sangat familiar di kedua mata beningnya. Seperti seseorang, tapi entah siapa, mungkin hanya perasaanna saja yang asal.

“Nah Vi, sekarang lo udah tahu kan yang namanya Jo? Udah nggak penasaran lagi kan?” Tanya Shilla sambil terus menebarkan senyum manisnya, membuyarkan lamunan di kedua kubu tersebut, -Jo dan Via-. Via pun hanya bisa menjawabnya dengan sebuah anggukan sambil melepaskan jabatan tangannya dengan pemuda oriental milik Shilla itu.
***

            Saat mata mulai bicara, segalanya kan terasa bermakna. Tak perlu sulit kau mengucapnya, ‘karna kelak semua pasti akan terbuka.
***

            Sepulang sekolah, Jo mengajak Shilla jalan-jalan ke salah satu mall di kota metropolitan tersebut. Jangan tanya, pasti Via juga turut bersama mereka. Seharian itu mereka habiskan untuk berjalan-jalan disana. Saat mereka tengah masuk ke salah satu toko boneka yang ada dalam mall tersebut, Jo membelikan sebuah boneka beruang cukup besar berwarna putih bersih dengan membawa sebuah hati bertuliskan ‘I Love You’ didadanya untuk Shilla.
           
“Boneka cantik, untuk tuan putri yang cantik.” Ucap Jo mengacungkan boneka beruang itu dan menyembunyikan wajahnya di balik tubuh boneka besar itu, seolah-olah beruang itulah yang berbicara kepada Shilla. Bukan Jo.

Lagi-lagi gadis itu tersipu dan terkekeh kecil mendengar perkataan kekasih hatinya itu. Memang hanya Jo lah yang dapat membuatnya seperti ini. Semua kalimat yang terlontar dari bibir Jo memang selalu bermakna bagi Shilla, dan mungkin kalimat yang sama tidak akan bermakna apa-apa lagi jika orang lain yang mengucapkannya.

“Makasih ya Jo.”

“Sama-sama tuan putri.”

Via yang tengah memandang adegan yang diperankan kedua sahabatnya itu pun turut tersenym bahagia. Meski tak dapat dipungkiri ada sedikit rasa sedih disana. Ingin sekali ia mendapatkan perlakuan yang sama seperti apa yang di dapat Shilla saat ini. Dari orang itu, cinta pertamanya dulu yang sekarang entah berada dimana.
***

            Setelah puas mengelilingi mall yang bisa dibilang cukup besar ini, mereka bertiga pun beristirahat di salah satu cafetaria yang terletak di sudut taman mall tersebut. Bunga-bunga yang bermekaran disana menghiasi sorot bening ketiga insan tersebut.
           
“Um.. Vi, Jo, aku ke toilet sebentar ya.” Shilla pun segera pergi ke toilet dan hanya meninggalkan Jo dan Via disana.

Setelah Shilla menghilang dari fokus mereka berdua, tiba-tiba Jo mengeluarkan sebuah boneka kecil dari dalam tas belanjanya. Boneka itu sangat lucu. Sebuah boneka kelinci kecil berwarna pink dengan sebuah wortel oranye di dadanya.

“Vi, ini boneka buat lo.”

“Eh..” Via pun bingung. Tak menyangka bahwa boneka itu untuknya. Tadinya ia mengira kalau itu adalah salah satu kejutan Jo untuk Shilla lagi.

“Ayo Vi terima. Anggep aja ini ucapan terimakasih gue ke elo yang udah nemenin gue dan Shilla jalan-jalan sore ini.”

“Hehe.. Iya deh. Makasih ya Jo.” Ucap Via tulus. Namun dalam hatinya ia sedikit bertanya-tanya, ‘darimana Jo tau kalu gue suka sama kelinci dan warna pink?’ Tak lama setelah pertanyaan itu muncul secara tiba-tiba dalam otaknya, Via pun segera membuangnya jauh-jauh. Karena sudah jelas ini adalah suatu ‘kebetulan’. Tak usah ditanya lagi pasti hampir seluruh gadis di dunia ini menyukai warna pink. Iya kan?

Lama-kelamaan Via pun menyadari sesuatu. Ada sepasang mata bening yang tengah memperhatikannya. Ya, itu adalah mata milik Jo. Refleks ia pun juga memandang Jo dengan pandangan yang memuat tanda tanya besar. Jo terus memandangi Via, demikian pula dengan Via yang terus menatap Jo lekat-lekat. Pikiran yang sempat terlintas saat pertama kali mereka bertemu pun muncul kembali di otak Via. ’Wajah Jo sangat familiar sekali.’

Cukup lama mata kedua insan itu bertumbuk. Bak gemrisik angin yang mnerbangkan dedaunan senja itu, ada debaran sangat kecil disana. Tak ada seorang pun yang mampu mengerti akan hal itu. Hanya sang pemilik hati itu lah yang mampu merasakannya.

“Ehm..” Deheman halus merasuk ke rongga telinga mereka berdua. Benar, itu suara Shilla. Rupanya ia barusaja kembali dari toilet. “Lama ya..” Lanjutnya sambil tersenyum. Bukan senyum yang biasa, namun senyum itu nampak seperti dipaksakan.

“Enggak juga kok Shil.” Jawab Via. Jujur ia merasa tidak enak hati kepada Shilla karena baru saja ia tengah memandangi kekasih sahabatnya ini sangat dalam.

“Yaudah, lanjutin makannya yuk..” Ajak Jo. Mereka bertiga pun menyelesaikan acara makan mereka dalam diam.
***

            Akhirnya gadis itu pun mengerti, apa yang seharusnya ia ketahui. Cita lamanya yang akhirnya kembali, namun harus sesegera itu ia relakan pergi.
***
“Shil, maaf ya. Kayaknya nanti gue nggak bisa pulang bareng lo deh. Ada ekstra piano soalnya.” Ucap Via saat bel tanda istirahat tengah berdering.

“Oh, yaudah nggak papa Vi, lagian nanti gue juga bisa kan pulang bareng Jo.”

Via pun tersenyum lega mendengarnya. Dengan adanya Jo disini, ia tak perlu khawtir lagi saat dirinya tidak bisa menjaga Shilla. Selalu ada Jo yang akan menemani gadis cantik itu kalau-kalau Via tengah sibuk.

“Oh iya, mau ke kantin Vi? Kayaknya Jo udah nunggu kita disana deh.” Ajak Shilla. Via pun hanya menjawabnya dengan sebuah gelengan.

“Enggak deh Shil, gue nggak laper. Gue mau dikelas aja deh ya.”

“Yaudah Vi, kalo tiba-tiba lo pengen makan sesuatu, sms gue aja ya. ‘Ntar gue beliin.” Tawar Shilla lembut. Via pun hanya mengangguk sambil tersenyum melihat Shilla yang sangat perhatian sekali padanya. Itulah sebabnya ia sangat menyayangi Shilla dan selalu menjaga gadis tersebut agar tetap bahagia.
***

            Alunan nada syahdu menghiasi setiap sudut ruang musik sekolah itu. Tekanan pada tuts grand piano didepannya itu seolah menggambarkan perasaan rindunya akan seseorang. Pasti. Siapa lagi kalau bukan pemuda masa lalunya yang sudah sepuluh tahun ini menghuni termpat paling special dihatinya. Seorang pemuda kecil yang tak lain adalah sahabatnya sendiri, yang sangat menggemari olahraga sepak bola. Pemuda yang sepuluh tahun lalu harus rela di tinggalkannya karena kedua orangtua gadis itu harus pindah tugas ke kota Jakarta ini.

Hatinya sungguh terluka jika mengingat saat ia harus meninggalkan pemuda itu tanpa pamit. Menyesalkan perbuatannya yang tak dapat menucapkan sepatah kata perpisahan pun kepada pemuda yang sangat di cintainya itu hingga saat ini. Mungkin tindakan itu juga menyisakan sebuah tanda tanya besar dan luka yang teramat dalam bagi pemuda masa lalunya itu, yang selalu beranggapan bahwa gadis manis sahabatnya itu takkan pernah meninggalkannya walau seinci pun.

“Kamu, Via. Sivia Azizah. Seorang gadis cilik yang cengeng dan selalu menjadi yang terbelakang dalam pelajaran olahraga.” Tiba-tiba seorang pemuda memberhentikan permainan piano Via secara paksa lewat perkataannya tadi. Sontak Via kaget mendengar suara yang sangat dikenalnya. Benar saja, itu suara Jo. Apa maksudnya berkata seperti itu? Dan darimana ia tahu kalau dulunya Via adalah gadis cilik yang cengeng dan selalu menjadi yang terbelakang saat pelajaran olahraga? Dan lagi, Bukankah Jo harus mengantarkan Shilla pulang?

“Kamu Sivia Azizah, Cinta monyet ku yang dulu tiba-tiba meninggalkanku tanpa pamit dalam kesedihanku sendiri. Kamu nggak tahu seberapa terpuruknya aku dulu Vi, setiap hari nungguin kamu di taman sekolah, tapi kamunya nggak pernah dateng.” Kemudian pemuda itu pun tersenyum miris. Mengingat kesendiriannya dulu setelah ditinggal Via.

JEDEER!!! Kilat yang memuat listrik bermega-mega watt seolah tepat menyambar pada ubun-ubun Via. Pantas saja ia merasa wajah pemuda itu sangat familiar. Bagaimana bisa ia melupakan wajah seseorang yang sudah seputuh tahun ini mengisi relung hatinya? Betapa bodohnya ia selama ini, yang tak dapat menyadari bahwa pemuda itu Alvin. Alvin cinta monyetnya dulu. Tanpa dikomandoi, butiran kristal mulai mucul di kedua sudut mata beningnya. Hatinya benar-benar tak karuan, nafasnya pun mulai tersengal menengar pengakuan pemuda itu.

“Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu. Bahkan sampai sekarang rasa itu masih ada, disini.” Lanjut pemuda itu. Suaranya bergetar. Ia menunjuk dadanya, seolah menunjukkan bahwa cintanya kepada Via masih tersimpan rapi disana, dihatinya.

            Beberapa menit kedua insan itu terdiam. Mencoba mencerna segala hal yang baru saja terjadi. Sepertinya kini saatnya Via yang angkat bicara. Ia tak mau menjadi egois. Alvin tengah menjadi milik Shilla sekarang, sahabat yang sangat disayanginya. Dan sepertinya detik ini lah saatnya ia menghapus nama Alvin dari hatinya. Selamanya.

            “Kamu juga nggak pernah tahu kan Vin, kalau aku juga sakit saat ninggalin kamu. Papa tiba-tiba dipindah tugaskan ke Jakarta, dan mau tak mau aku harus ikut dengannya. Maafin aku Vin, aku tahu kalau aku salah. Jujur, sampai saat ini rasa itu juga tak pendah beranjak seinci pun dari sini.” Kata Via menunjuk pada hatinya. “Tapi, aku nggak mau jadi orang yang egois. Kamu sudah menjadi milik sahabatku, Shilla. Dia adalah gadis yang baik dan aku sangat menyayanginya. Jangan kecewain dia Vin. Aku mohon.” Lanjut Via.

            “Lalu kamu akan menjadi seorang yang munafik. Membohongi semua orang bahwa kamu dan aku nggak ada rasa apa-apa. Nggak pernah ada apa-apa di antara kita sebelumnya. Membohongi Shilla dan meutupi kenyataan bahwa sesungguhnya kita ini saling mencintai.”

            ‘BUK.’ Sebuah benda terjatuh dari balik pintu ruang musik tersebut. Perasaan Via sungguh tak enak. Ia pun segera bangkit dari bangku grand piano yang tengah ia duduki dan segera berlari keluar ruangan.

            Benar firasatnya. Shilla tengah mendengar semuanya, hingga menjatuhkan kamus bahasa Jepang miliknya. Pasti hatinya sakit. Segera Via dan Alvin mengejarnya. Namun Shilla terus berlari dan tanpa menengok kanan kiri menyeberangi sebuah jalanan yang ramai disana.

            “SHILLA AWAAASS!!!!”

            “BRAAKK!!!”

            Beberapa detik sebelum truk continer itu menyambar tubuh Shilla, Via terlebih dulu menyelamatkannya dan mengorbankan dirinya. Via tersenyum ditengah rasa sakitnya saat melihat keadaan Shilla baik-baik saja, denga Alvin, atau mungkin Jo disebelahnya.

              “Shil, maafin gue ya. Gue nggak tahu kalo Jo itu Alvin. Tapi sungguh Shil, gue nggak ada niat ngrebut Alvin dari lo. Alvin sepenuhnya punya lo.” Kata Via, mencoba sekuat tenaga mengucapkan kata-kata yang harus segera ia sampaikan sebelum malaikat itu menjemputnya.

            “Udah Vi, harusnya gue yang minta maaf. Gue yang udah bikin lo kayak gini. Maafin gue Vi. Gue bukan sahabat yang baik buat lo.” Raung Shilla. Air matanya menghujani kedua pipi halusnya. Disampingnya ada Alvin yang terus memeluknya. Mencoba meguatkan perasaan Shilla kala itu.

            Via pun tersenyum. “Enggak, lo tetep sahabat terbaik gue. Sodara yang selalu gue sayang. Janji ya, lo harus jaga Alvin baik-baik.”

            Shilla hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Nafasnya semakin tercekat memandang keadaan sahabat terbaikya ini yang semakin melemah.

            “Viinn..” Ucap Via lirih. Pandangannya beralih kepada sosok Alvin yang terduduk disebelah Shilla.
           
            “Jagain Shilla ya, buat gue. Cuma lo yang gue percaya bisa ngejagain dia dengan baik. Jagain dia sepenuh hati lo.” Lanjutnya.

            “Iya Vi, Pasti. Gue janji sama lo. Gue nggak akan pernah ninggalin Shilla. Gue bakal jagain dia selamanya, sepenuh hati gue.” Ucap Alvin mantap.

            Via pun tersenyum. Ia merasa waktunya telah tiba. Ia harus tertidur untuk selamanya. Tenang. Itu lah yang ia rasa sekarang, setelah semua hal yang membebani pikirannya usai. Sedetik kemudian, mata Via sudah terpejam. Senyum kecil menghiasi wajahnya kala itu. Via masih tetap cantik walau bibir merah yang biasa ia tampakkan kini memutih, menjadi lebih pucat. Tak ada lagi suara disana. Nafas Via sudah tak terdengar, dan denyut nadinya juga sudah tak terasa. Via benar-benar telah pergi, meninggalkan sahabat dan cinta sejatinya disana, menuju alam barunya yang lebih indah. Menjadi sebuah bintang baru di langit kala gelap mulai menyelimuti pandangan mata setiap insan di bumi. Menampakkan pendar cahaya indahnya dari sudut pekatnya malam.

            “Rest in peace, dear.” Ucap Shilla pelan, tepat pada telinga Via dan kemudian mengecup keningnya pelan.


-TAMAT-