Alvin ♥ Sivia

Alvin ♥ Sivia

Senin, 13 Juni 2011

Ini Bukan Akhir Mimpiku (Short Story)

Kebahagiaan itu akhirnya datang juga
Risauku selama hampir setahun ini akhirnya terbalas pula
Terimakasih Tuhan, Kau telah limpahkan karunia tak terbatas kepadaku.
*

“Aku LULUS!!!!!”

Sorak sorai pelajar kelas XII itu menggema diseluruh penjuru gedung sekolah ini. Sirat wajah kebahagiaan terus terpancar dari diri mereka, seolah tak ingin beranjak seincipun dari sana. Hampir setahun sudah mereka tak henti-henti  bergeluyutan dengan buku, serta pelajaran tambahan yang sangat menjemukan. Belum lagi dengan perasaan risau yang terus mengusik pikiran-pikiran mereka. Akankah aku lulus? Bagaimana nilaiku kelak?

Dan akhirnya, hari ini itu semua seperti telah terbayar lunas. Sekolah ini lulus seratus persen. Tawa lepas pun memenuhi rongga telinga setiap makhluk hidup disana.

“Rio!! Aku lulus!!! Aahh…” Seorang pemuda berwajah oriental berjalan angkuh menghampiri sahabat kabribnya.

“Ah Alvin, iya aku lulus juga Vin. Seneng deh akhirnya perjuangan kita setahun ini tak sia-sia.” Keduanya pun saling berpelukan dan saling tepuk menepuk pundak, seolah membagi kebahagiaan mereka saat itu.

“Oke deh Yo, sekarang kita tinggal menunggu pengumuman SNMPTN Undangan dua hari lagi. Semoga hasilnya tak mengecewakan.” Ujar pembuda oriental yang bernama Alvin itu.

“Sip deh bro. Eh, kau mau tanda tangan ku tidak?”

“Hahahaha.” Alvin pun tertawa dan segera meraih spidol yang terletak di samping papan tulis, dekat ia dan Rio berdiri kini.

Yah.. Akhirnya hari itu dilanjutkan dengan acara tanda tangan, konvoi dan lain sebagainya. Ada juga siswa-siswi yang bergantian mencium tangan bapak-ibu gurunya seraya mengucap banyak terimakasih atas jasa-jasa mereka selama ini. Ah.. bahagia sekali memang.
*

Dihari penentuain ini, aku jatuh lantas tersungkur
Tubuhku ringkih, seolah sangat sulit bagiku untuk bangkit dan berdiri
Namun terimakasih Tuhan, Kau telah kirimkan malaikat tanpa sayap itu pada ku
*

Malam itu, seorang pemuda terlihat tengah sibuk sekali dengan notebooknya. Dia mulai menancapkan modem, mengconectkannya, lantas menunjuk salah satu software yang dapat menghubungkannya dengan dunia maya. Pemuda itupun mengetik beberapa huruf pada web address bar  yang telah tersedia disana, kemudian menekan enter pada keyboard notebooknya.

Ia menghentak-hentakkan kakinya tak jelas ke lantai sambil menunggu proses loading pencariannya usai. Tergambar jelas bahwa pemuda ini tengah dirundung kegelisahan yang teramat sangat. Telihat dari mimik wajah dan tatapan tajamnya yang terus mengarah kepada layar yang menyala terang dihadapannya itu.

Akhirnya web yang sedari tadi ia buka tengah menampakkan rupanya. Lantas si pemuda pun mengklik salah satu wilayah berwarna merah  yang di sodorkan front page web tersebut dan kemudian memasukkan beberapa digit nomer pada kolom yang telah tersedia.

Kegelisahan yang sedari tadi menghantuinya pun kini terasa semakin liar. ‘Beberapa detik lagi, dan semuanya akan ku ketahui.’ Pemuda itu mulai bergumam pelan sambil merapalkan do’a tak henti-henti kepada Yang Kuasa, berharap segalanya akan berakhir baik.

Setelah beberapa lama menunggu dalam keheningan kamarnya sendiri, si pemuda pun tiba-tiba mendelik, seolah tak percaya akan beberapa kata yang sangat menohoknya kala itu.

‘Maaf Anda Tidak Lolos SNMPTN Undangan 2011’

Si pemuda terus mengulang untuk membaca kalimat tersebut. Ia lantas mengerjapkan matanya beberapa kali, berharap tulisan didepannya itu dapat berubah seketika itu. Namun apa daya, tulisan itu tak kunjung berubah pula. Ia pun menghela nafas panjang dan berat, memejamkan matanya, dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.

‘Kuarang bagus apa nilai raport ku?’ Pikirnya. Ia sudah nampak frustasi akibat kalimat keramat yang tengah berhasil mematahkan tangga cita-citaya tersebut.

 “Bagaimana Vin?” Tanya seorang lelaki paruh baya yang kini duduk tak jauh dari putra semata wayangnya itu. Namun, si pemuda yang di tanya malah diam saja tak bergeming dan masih asik menundukkan kepalanya. Setelah beberapa lama, ia lantas menghela nafas panjang sekali lagi dan kemudian menjawab pertanyaan sang ayah tanpa menoleh sedikitpun.

“Aku belum berhasil Yah.” Ujarnya dengan intonasi yang teramat lirih.

“Coba nak, kau baca sekali lagi.” Sang ayah malah menyuruhnya untuk membaca tulisan itu lagi, seolah meragukan kemampuan membaca sang putra. Alvinpun memutar notebooknya agar menghadap kepada ayahnya. Lelaki paruh baya itu lantas membetulkan letak  kacamata bacanya yang sedikit melorot dan kemudian membungkuk, mendekatkan wajahnya pada layar yang tengah menyala terang di depannya itu. Setelah mencermati tulisan itu selama beberapa detik, ia pun akhirnya kembali duduk dan mendesah pelan.

“Mungkin, Tuhan memiliki rencana lain untukmu. Kau tahu? Tuhan mengetahui segala yang terbaik untukmu lebih dari dirimu sendiri. Berjuanglah nak, karena perjuanganmu baru saja akan dimulai.”

Alvin pun terdiam mendengar kata-kata ayahnya. Benar. Setelah ini masih banyak tantangan yang akan menuntutnya. Memang jika SNMPTN Undangan ini ia belum lolos, masih ada kesempatan lagi untuknya mecoba jalur SNMPTN tulis. Namun bukannya itu akan terasa sangat berat? Kuota penerimaan mahasiswa barunya pun juga lebih sedikit. Bisakah ia lolos?

Ayah Alvin pun bangkit dari tempat duduknya dan kemudian maju beberapa langkah menghampiri putra kesayangannya itu. Ia lantas menepuk-nepuk bahu Alvin dua kali untuk sekedar memberi kekuatan dan kemudian berbalik melangkah pergi, membiarkan putranya untuk sejenak menenangkan diri.

Alvin pun dengan cepat membalikkan tubuhnya dan menatap punggung sang ayah yang kini sudah berada diambang pintu kamarnya. Sebelum ayahnya benar-benar pergi, pemuda itu mengucap beberapa kata yang sangat mengganggu pikirannya saat ini. “Ayah kecewa padaku?”

Ayah Alvin pun seketika berbalik dan tersenyum samar. “Belum.” Ujarnya, yang kemudian kembali melangkah meninggalkan kamar Alvin. Alvin kembali mendengus pelan, kemudian menatap notebooknya lagi dengan tatapan yang teramat benci. Ingin sekali ia membanting benda mungil dihadapannya itu, sebelum ada sebuah suara yang tengah mengusik gendang telingannya.

‘tok tok tok’

Tanpa menunggu aba-aba dari si empunya kamar, kini tampak seorang gadis manis tengah menyembulkan rupanya dari balik pintu jati ruangan tersebut.

“Maaf kak, aku menggangu?” Tanya nya pada seorang pemuda yang tampak kacau dihadapannya kini. Si pemuda yang ditanya hanya menggeleng lemah. Lantas, gadis manis tadi pun berbalik menutup pintu jati di belakangnya dan kemudian melangkah menghampiri kakak sepupunya yang tengah galau tingkat dewa itu.

Si gadis pun akhirnya memeberhentikan langkah tepat dibepakang sepupunya dan menepuk-nepuk pelan pundaknya. “Sabar ya kak.” Ujarnya lirih. Namun lagi-lagi si pemuda hanya menghela nafas berat.

Gadis itu pun akhirnya memilih duduk di kasur yang terletak di sebelah kiri meja belajar sepupunya. Lantas ia menghirup nafas dalam, menghembuskannya dan berujar “Kakak percaya dengan ungkapan ‘kegagalan adalah suatu kesuksesan yang tertunda?’”

Alvin pun mendelik dan kemudian tersenyum sinis. “Itu hanya sebuah ungkapan. Jika seseorang tengah gagal dan terpuruk, akan sulit baginya untuk kembali bangkit. Butuh perjuangan yang sangat keras untuk mengembalikan keadaannya seperti semula.”

Gadis manis tadi pun tersenyum menanggapi kata-kata Alvin. “Nah, kakak benar. Maka dari itu, kakak harus berjuang lebih keras untuk bangkit dan kemudian kembali semangat mengejar cita-cita kakak. Via yakin, kakak mampu. Via kenal kakak seumur hidup Via, sejak Via lahir. Via tahu kak Alvin tak mungkin selemah ini. Kak Alvin, sosok yang selalu membuat Via kagum akan kegigihannya untuk mencapai apa yang ia inginkan. Kak Alvin yang memiliki semangat membara untuk terus belajar tanpa kenal lelah. Kakak bisa! Percayalah!” Via –nama gadis manis itu- lantas kembali bangkit dan kemudian menumpukan kedua telapak tangannya di bahu sepupunya, untuk meyakinkan Alvin bahwa dirinya bisa dan mampu.

Namun tampaknya, Alvin masih saja ragu. Dirinya masih ringkih dan belum siap untuk kembali bangkit secepat ini. “Tapi Vi, kakak sudah gagal. Jalan yang harus kakak tempuh setelah ini akan lebih berat. Kakak tak yakin dapat melaluinya.”

“Kak, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Kita masih punya Tuhan yang akan selalu menolong kita, memudahkan jalan kita, jika kita mau terus berusaha dan berdo’a.”

Benar apa yang dikatankan Via. Alvin masih memiliki Tuhan yang akan selalu mengulurkan nikmat bagi seluruh hambanya yang sabar dan terus berusaha. Alvin harus bangkit untuk kembali meraih cita-citanya. Sungguh tak dapat di terima jika sayap yang telah ia rangkai untuk menerbangkan kotak cita-citanya itu lantas menggugurkan bulunya satu persatu hingga tandas dan tak dapat lagi terbang menembus angan-angannya.

“Kakak bisa, asal mau berusaha . Kakak harus percaya bahwa diri kakak mampu. Jangan pernah berkata ‘aku tidak bisa’ karena Via sangat membenci kata-kata itu.”

Alvin pun mengernyitkan dahi setelah mendengar ucapan Via tadi. Lantas ia pun bertanya kepada sepupunya itu “kenapa?”

Via pun mendengus sekilas sebelum menjawab pertanyaan Alvin. “Kakak tahu, jika kakak berkata tidak bisa, maka tanpa kakak sadari otak kakak akan mengamini perkataan kakak itu. Kakak akan benar-benar gagal jika kakak terus berpikir bahwa kakak akan gagal. Dan sebaliknya, kakak akan berhasil jika kakak terus menanamkan pikiran bahwa kakak akan berhasil.”

Oke, harus Alvin akui sekali lagi bahwa perkataan Via itu benar.  Jika Alvin terus menerus berpikir dirinya akan gagal, maka itu akan semakin membuatnya takut dan down. Sekarang yang sepatutnya Alvin lakukan adalah kembali semangat untuk meraih cita-cita yang diimpikannya, karena semuanya belum berakhir.

“Kak Alvin tahu? Tuhan mengirimkan ujian kepada makhluknya itu tidak sendirian. Pasti ada hikmah disamping itu semua. Seperti kakak sekarang. Mungkin Tuhan ingin menguji seberapa tegar dan seberapa gigih kakak untuk mencapai cita-cita kakak. Agar kelak, saat kakak berusaha dengan keras dan membuahkan hasil yang memuaskan, kakak akan lebih tahu akan apa itu arti bersyukur.”

Alvin masih saja terdiam meresapi setiap kata yang terlontar dari bibir Via. Lantas ia memejamkan matanya, sekedar untuk mencari kebenaran dalam dirnya sendri. Benarkah dirinya akan mampu lolos dalam SNMPTN tulis dan membanggakan ayah ibunya?

“Ayah dan ibu kakak pasti kelak juga akan bangga jika kakak mampu lolos dari ujian Tuhan yang satu ini. Kakak harus bisa meraih mimpi kakak, karena cita-cita kakak adalah cita-cita orang tua kakak juga.”

“Kakak harus bangkit demi orang-orang yang kakak sayangi dan menyayangi kakak. Jangan terus terlarut dalam sebuah penyesalan. Karena mau seberapa lama pun kakak menyesali ini semua, keadaan tidak akan berubah jika bukan kakak sendiri yang mengubahnya.”

Suasana disana pun hening beberapa saat setelah Via mengakhiri ucapannya. Kini hanya tinggal terdengar suara jangkrik yang dengan beraninya bersuara di luar ruangan tersebut. Tak jarang pula suara jangkrik itu berbaur menjadi satu dengan suara burung hantu yang entah tengah bertengger dimana. Desauan anak-anak angin pun mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar Alvin dengan sedikit malu-malu untuk sekedar memberi semangat kepada si pemuda yang tengah dirundung rasa putus asa itu.

Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan kembali tertelurkan dari mulut Alvin, menghapus keheningan yang tengah tercipta.  “Namun, bukannya kita juga harus memikirkan kemungkinan terburuk dari ini semua Vi? Bagaimana jika besok kakak gagal dan membuat kecewa kedua orang tua kakak? Bukankah kakak ini anak yang tidak berguna?”

“Jangan bicara begitu kak!” Nada bicara Via seketika meninggi. Alvin pun sontak kaget. Namun perlahan Via kembali mengontrol emosinya dengan menarik dan menghembuskan nafasnya yang memburu beberapa kali.

“Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini sudah pasti berguna dan beranfaat. Tidak ada yang tercipta sia-sia. Begitu pun kakak. Kakak belum mencobanya, jadi tak sepantasnya kakak pesims seperti ini. Mana kakak Via yang selalu semangat? Mana kak Alvin yang pantang menyerah? Ini benar-benar bukan diri kakak!” Via pun mencibir sepunya itu. Entah apa yang ada di benak Alvin hingga ia selalu menanamkan pikiran negatif pada otaknya.

“Kalaupun nanti kakak tidak lolos dalam SNMPTN tulis, kakak masih bisa kuliah di Universitas swasta bukan? Tidak apa-apa kita mundur satu langkah kebelakang untuk maju berjuta-juta langkah kedepan. Percayalah kak! Ini bukan akhir, justru ini adalah awal dari perjuangan kakak!”

Alvin pun mulai membuka matanya perlahan. Nampaknya, kini jiwa pemuda itu sudah menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Tuturan Via memang sangat merasuk dalam dirinya. Membaur menjadi satu dengan aliran darahnya dan mentranfer beberapa energi positif disetiap sel tubuhnya.

Alvin tak boleh terus terpuruk. Ia justru harus semangat agar cita-citanya kelak dapat tercapai. Terlebih jika dia berhasil menjadi seorang dokter seperti apa yang idamkannya, pastilah ia dapat menerbitkan tawa di wajah kedua orang tuanya. Suatu kebahagiaan yang tak dapat dibayar oleh emas permata tat kala meihat pemandangan kedua orang tuanya tertawa bahagia dan bangga atas prestasi yang ia raih.

Lantas, Alvin memutar kursi belajarnya dan kemudian menatap wajah Via tajam. Ia pun mulai tersenyum –dengan senyuman miring khas nya- yang seketika mampu membuat hati Via lega. “Wah, adik kakak sudah pintar ngasih wejangan ke kakaknya nih!” Alvin mengangkat tangan kanannya dan kemudian mendaratkannya tepat pada puncak kepala Via. Ia lantas mengacak rambut Via dengan sedikit  gemas.

Via pun terkekeh pelan. Menyadari bahwa kakaknya kini sudah kembali seperti sedia kala. “Kak, dulu waktu SD, Via pernah nangis gara-gara nilai raport Via turun. Via down dan nggak mau sekolah lagi. Terus kak Alvin yang nyemangatin Via dan nyanyiin sebuah lagu buat Via. Sekarang gantian Via yang mau nyanyiin lagu itu buat kakak. Boleh?” Alvin pun tersenyum manis dan kemudian mengangguk dua kali, tanda bahwa ia mengijinkan Via menyanyi untuknya.

Via pun membalas senyuman Alvin itu tak kalah manis. Lantas ia berjalan menuju salah satu sudut kamar Alvin dan mengambil sebuah gitar disana. Setelah itu, ia kembali duduk di atas kasur empuk Alvin dan memulai permainannya.

Jangan bersedih dan putus asa
Slalu ada jalan bila kau terus berdoa
Tabur harapmu sebanyak bintang
Sebanyak bintang-bintang diangkasa

Alvin masih menatap Via lekat-lekat. Mencoba meresapi setiap baris dari lagu yang pernah ia nyanyikan untuk gadis itu dulu. Ia tak boleh mudah putus asa, karena Tuhan akan selalu bersamanya. Ia sudah menebar angan-angannya untuk menjadi seorang dokter yang terkenal. Dan kini, ia harus berjuang keras agar cita-citanya itu tercapi. Ya, memang haruslah begitu.

Gapai bintangmu, gapai impian
Jangan menyerah sebelum kau mencoba
Saatnya tiba, kau kan bahagia
Melihat bintangmu bercahaya

Dan jika ia tengah berusaha dan belajar keras, maka jalannya untuk menjadi seorang dokter akan terbuka lebih lebar. Pengetahuannya akan bertambah dan tak khayal jika tanggal 31 besok ia mampu menjawab soal SNMPTN tulis dengan mudah. Alvin harus tetap mempertahankan semangat didadanya. Dia belum mencoba, sehingga segala kemungkinan masih dapat terjadi. Ia yakin bahwa Tuhan akan mengirimkan malaikatNya untuk senantiasa membantu dirinya. Dan kelak jika saatnya tiba, ia akan tersenyum menang serta menyaksikan kedua ujung bibir orang tua terkasihnya terangkat, membuat sebuah senyuman luas yang mampu membuat dirinya puas.

Tunjuk satu bintang dan raihlah
Jangan kau berhenti dan menyerah
Saatnya kan tiba, bintangmu bersinar
Saat impianmu, jadi nyata (Idola Cilik–Tunjuk Satu Bintang)
*

Tuhan memang sangat adil
Semua rencananya telah tersusun indah tanpa cela
*

Beberapa hari setelah waktu itu, Alvin menjalani tes SNMPTN tulisnya di salah satu Universitas ternama di Indonesia. Alih-alih diterima, ia bahkan berhasil menyabet beasiswa selama 8 semester disana.

Yah, Lima tahun sudah Alvin mengemban ilmu di universitas itu dan akhirnya, kini ia berhasil menyandang gelar sarjana S 1-nya. Bahkan tak hanya berhenti di situ, lagi-lagi ia juga mampu mendapatkan beasisiwa. Beasiswa untuk melanjutkan S 2 di Jepang berkat semangatnya yang tak pernah redup untuk terus belajar.

Beginilah cara indah Tuhan untuk menunjukkan kekuasan-Nya kepada setiap umat yang senantiasa berdo’a dan berusaha demi mencapai apa yang ia inginkan. Percayalah bahwa Tuhan tidak akan mau mengubah takdirmu begitu saja jika kau sendiri tak berusaha untuk mengubahnya.

-TAMAT-

Errrrrr *lirik kanan kiri memastikan tak ada suatu benda melayang yang tertuju kepada penulis sarap ini*Demi apa ini cerpennya rusak banget. Kata-katanya banyak yang belibet. Feelnya ngak dapet dan endingnya nggak banget. AAAAAAAA (sekarang bukan Alvin, malah penulisnya yang lagi galau tingkat dewa memikirkan hasil karya yang gagal total ini)

Maaf beribu maaf buat yang sial kena tag dari saya. Boleh dihapus kok kalo memang nggak suka.

Pesan dari cerpen ini, kita harus tetap semangat untuk menghadapi cobaan seburuk apapun, karena kita tidak pernah tahu apa rencana indah Tuhan yang telah menanti di depan kita. Jika kita mau berusaha keras dan berdo’a, Tuhan akan mengubah takdir kita menjadi lebih baik. Percayalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar